Andai Mereka Bisa Bicara

Buku menceritakan pengalaman penulisnya, James Herriot, ketika melakukan praktek sebagai dokter hewan di tahun pertamanya. Waktu itu tahun 1937, Inggris baru melewati depresi ekonomi sementara dibagian bumi yang lain depresi ekonomi masih sedang berlangsung dan perang dunia kedua sedang menjelang. Sehingga mendapatkan pekerjaan pada masa bukanlah hal yang mudah. Di tahun yang sama James Herriot menyelesaikan sekolah kedokteran hewan. Beruntung baginya dibanding beberapa temannya yang perlu berjuang untuk mendapatkan pekerjaan. Siegfried Farnon seorang dokter hewan dari Darrowby Yorkshire, berkenan menerima Herriot menjadi asistennya. “Kau kuterima jadi asistenku. Gajinya empat pound seminggu. Makan dan tempat tinggal gratis. Setuju?” ujar Siegfried. “Empat pound seminggu! Itu banyak sekali, aku beruntung” pikir Herriot sembari mengingat pencari kerja seprofesi yang bahkan sedia bekerja walau hanya dengan bayaran makan gratis!

Darrowby adalah sebagai sebuah kota kecil di Inggris dengan nuansa pedesaan: penduduk yang ramah dan menyenangkan, daerah pegunungan, sungai – sungai berbatu kerikil, rumah di lereng bukit; bukit-bukit hijau dan lembah dari padang rumput yang ditumbuhi bunga-bunga dan pepohonannya dengan udara yang bersih dan segar, peternakan, para petani dan kebun dengan lebah-lebah yang sibuk bekerja diantara bunga-bunga, sementara kicauan burung saling bersahutan. Petualangan Herriot sebagai dokter hewan banyak dihabiskan bersama Siegfried dan Tristan dan penduduk desa.

***

Siegfried Farnon sendiri adalah seorang yang berkeribadian hangat, cenderung praktis, selalu bangga akan hasil pekerjaannya namun tak begitu teliti, penuh semangat namun pelupa dan keras kepala. Setiap pagi Siegfried akan memberitahu dengan tergesa- gesa kepada Herriot peternak atau petani yang akan di kunjungi sehingga sering menuju kerumah petani yang keliru atau mengerjakan pekerjaan yang salah. “Kau harus ikut James. Aku yakin kau sudah diajarkan cara memeriksa mayat”. Mobil kemudian meluncur hingga Siegfried mengarahkannya ke belokan kiri. “Mau kemana kau? Rumah Heaton di ujung Desa!” seru Herriot kepada Siegfried. “Tapi kau tadi berkata Seaton!” kilah Siegfried. Dan mobil meluncur dengan cepat, tak ada yang bisa dicegah oleh Herriot selain membiarkan Siegfried membutikannya sendiri. ”Kami ingin memeriksa mayat domba yang mati” ujar Siegfried sambil mengunus pisau bedah berkilat-kilat kepada pemilik rumah. Dan pernyataan itu kemudian selalu diiringi dengan permintaan maaf dan protes kepada Herriot. “Hei, lain kali hati-hati James, kejadian ini memberi kesan buruk bagi kita” seru Siegfried. “Hmmm ya… kan sudah di jelaskan rumah Heaton, bukan Seaton” paling tidak itu yang dipikirkan oleh Herriot.

Pada lain kesempatan sudah biasa bagi Herriot jika melihat Siegfried tiba-tiba mengubah pandangannya. Suatu hari, Herriot dan Siegfried sepakat bahwa kunjungan ke satu pasien hewan masih bisa di tunda. “Jika si petani selama beberapa hari bahkan mau merawat ternaknya sendiri tanpa memanggil dokter, mengapa tiba-tiba hari ini ia tak bisa menunggu hingg matahari terbit? Kau menjebaku, James. Aku harus bangun pukul 4 pagi untuk mengurusi sapi yang sakit perut karena kau menjanjikannya aku dapat datang kesana kapanpun Kau memanjakan orang ini, James”, ujar  Siegfried. “Okelah .. okelah, kalau begitu pada kesempatan lain, kunjungan artinya bisa di tunda ya…”, lagi – lagi, itu yang muncul dalam pikiran Herriot.

Hingga satu minggu kemudian. “Sumner tua hari ini mengeluh. Dia meneleponmu beberapa malam sebelumnya, tapi kau tak mau datang memeriksa sapinya. Kau tahu, dia pelanggan yang baik dan menyenangkan. Tapi kini dia sudah marah”, ujar Siegfried kepada Herriot. “Tapi itu hanya radang usus kronis, dan telah diobati sendiri oleh pemiliknya selama 1 minggu dengan obat yang dibeli dari tukang obat. Selera makannya juga bagus. Karena itu menurut pendapatku pemeriksaan bisa ditunda hingga hari berikutnya”, kilah Herriot. “Dalam pekerjaan kita ada pedoman mendasar yang harus diikuti: kau harus selalu siap kapanpun” ujar Siegfried. “Tapi seingatku baru minggu lalu kita menyepakati bahwa beberapa hal bisa ditunda”, kilah Herriot. “Jangan ambil pusing, lupakan saja kesepakatan minggu kemarin!” seru Siegfried.

Namun sering juga Siegfried menampilkan perannya sebagai sahabat yang hangat bagi Herriot sembari memberi nasihat bagaimana Herriot mengatasi kesulitan hidup. “Ada apa James?” Tanya Siegfried. “Aku merasa jengkel terhadap Rolston. Anak-anak sapinya terserang radang paru-paru. Berjam-jam aku sibuk menyuntiknya dengan obat-obatan mahal.Tak ada yang mati seekorpun. Sekarang dia mengeluh tentang biayanya dan tak mau mengucapkan terimakasih. Tak mau menghargai jerih payahku”. Teriak Herriot. “James, kau harus hidup dengan santai. Mengapa orang banyak menderita sakit jantung dan borok usus? Karena mereka menghadapi soal-soal kecil dengan tegang. Tenang James. Tak ada gunanya menegangkan urat syaraf”, Siegfried berkata sambil menepuk-nepuk bahu Herriot, seperti dokter jiwa yang membujuk pasiennya.

Begitulah hubungan antara majikan dengan pekerjanya. Tapi sebenarnya Siegfried tak pernah benar-benar berupaya membuat Hariot tersinggung. Hubungan yang terjalin antar mereka berlangsung akrab dan hangat. Herriot memandang Siegfried sebagai seorang yang berkepribadian unik karena apa yang dia tampilkan sehari-hari.

***

Tristan, adik Siegfried, adalah siswa sekolah kedokteran hewan yang sedang berlibur. Tristan, adalah sosok polos yang kekanak-kanakan, dan konyol. Kegagalannya menempuh ujian patologi dan parasitologi di tahun terakhirnya membuat Farnon kecewa dan marah besar kepada Tristan. Kehadiran Tristan dengan kegagalan ujiannya lantas menjadi sebuah kemewahan bagi Siegfried untuk menjahili Tristan dengan segala macam tugas dan pekerjaan yang melelahkan. Tristan kemudian diserahi tugas untuk menyalurkan obat-obatan, mencuci mobil, menerima telepon hingga menangani kasus. Namun Tristan selain polos dan konyol juga anak yang cukup cerdik. Dia selalu mencari cara untuk menghindari sejumlah pekerjaan yang harus dia lakukan. Sebagai teman Herriot yang akrab, Tristan justru mempercayakan banyak cerita kepada Herriot ketimbang Siegfried yang selalu membuatnya merasa ngeri dan tidak nyaman. Namun sebagai teman, Tristan juga adalah orang yang paling sering menggoda dan menjahili Herriot, hingga Herriot hampir mati berdiri sementara Herriot hampir selalu gagal membalas kejahilan Tristan.

“Heseltine baik sekali, mengajaku duduk dan sarapan dengannya. Dia memberiku sepotong lemak dari hewan peliharaannya sendiri. Bukan main sedapnya, masih terasa hingga sekarang ini! Kau tahu, sebenarnya buat apa kita membeli telur  dan lemak babi. Diujung kebun ini ada kandang ayam yang masih bagus dan ada kandang babi. Kita bisa memeliharanya sendiri, jadi bisa berhemat” Ujar Siegfried sambil berpaling kepada Tristan. “Itu akan menjadi kegiatan yang bermanfaat bagi Tristan” ujar Siegfried lebih lanjut.

“Beternak? Bukankah aku yang merawat kuda betinamu?”, teriak Tristan kepada Siegfried. “Aku tahu, mengurus kuda kan tidak makan waktu sepanjang hari. Jadi masih bisa memelihara ayam dan babi”, balas Siegfried.

Kalau Siegfried sudah punya gagasan, dia tidak mau berlama-lama. Semboyannya adalah bertindaklah segera. Dalam 48 jam 10 babi kecil dan 12 ekor ayam sudah bermukim di kandang. Namun setelah tiga minggu ayam yang berada dalam perawatan Ttristan tak kunjung bertelur. “Tak sebutir telurpun setelah tiga minggu, sedangkan ayam-ayam berkeliaran di seluruh daerah menggangu kebun tetangga sehingga kita dijauhi para tetangga. Bagus sekali kerja mu ya?”, ujar Siegfried kepada Tristan. Lama gema terakhir dari peristiwa ayam-ayam itu baru menghilang. Tapi dua minggu kemudian ketika duduk di meja makan, Siegfried berkata kepada Herriot “Kau ingat ayam itu? Telah kuberikan kepada Mrs. Dale. Dan dia merasa puas karena dia mengumpulkan 10 butir telur setiap hari. 10 butir, kau dengar?” Kata Siegfried menyindir Tristan.

Lain lagi cerita konyol Tristan tentang babi yang juga berada dalam perawatannya. Suatu hari Tristan datang kepada Herriot dengan ekspresi mengkhawatirkan. “Jim, babi – babi itu, mereka kabur semua hari ini’, ujar Tristan dengan serak. Tristan menarik-narik rambutnya dan berkata lebih lanjut ,”waktu itu aku sedang memberi makan kuda, dan kupikir sebaiknya aku sekalian memberi makan babi-babi itu. Tapi hari ini mereka gila. Begitu aku membuka pintu mereka mendesak keluar dalam satu kelompok rapat, aku terlempar ke udara dengan ember-emberku, lalu mereka lari menginjak-injak diriku. Mereka berlari melalui pintu halaman dengan kecepatan luar biasa”.

“Apakah pintu halaman terbuka?”, sahut Herriot. “Sialnya, memang terbuka. Entah mengapa justru hari ini aku membiarkannya terbuka. Mereka mengelompok di sana. Kelihatannya tak tahu mau pergi ke mana. Aku sudah yakin bisa menggiringya kembali, tapi tepat pada waktu itu salah satu dari mereka melihat pantulan dirinya di kaca toko Robson. Itulah gara-garanya Jim. Binatang itu panik dan melesat ke pasar dengan cepat, dan yang lainnya menyusul. Aku terengah menyusulnya. 10 ekor babi lepas di antara kedai-kedai dan orang berkeliaran di hari pekan. Perempuan dan anak-anak, pemilik kedai dan polisi menjerit-jerit mengumpatku”, jelas Tristan.

“Aku sudah berhasil mengembalikan yang 9 ekor dengan bantuan hampir semua penduduk laki-laki di daerah ini. Namun yang 1 ekor lagi, hanya Tuhan yang tahu. Tapi itu belum selesai. Waktu aku akhirnya menutup pintu setelah memasukan babi-babi ke kandangnya, aku hampir pingsan, waktu menyadari bahwa kuda juga hilang. Ya Tuhan. Habislah aku!” Seru Tristan putus asa. Herriot merasa ngeri membayangkan apa yang akan terjadi antara Siegfried dan Tristan karena kecerobohan ini.

***

Kunjungan ke pasien di lakukan sendiri setiap hari oleh Herriot. Dengan menggunakan mobil tua, Herriot berjalan menyusuri jalan pedesaan. Menaiki bukit, menyusuri lembah, jalanan pinggir sungai, melewati jembatan, padang rumput dan pepohonan melewati rumah-rumah khas pedesaan. Sebagai dokter baru, tentu saja Herriot masih harus membangun reputasinya. “Apakah dokter Farnon ada? Saya ingin ia memeriksa sapi saya yang sedang sakit”, ucap seseorang di telepon. “O, ya. Dokter Farnon sedang keluar. Saya Herriot asistennya. Ada yang bisa saya bantu?” balas Herriot. “Hmmh.. okelah, saya mengharapkan dokter Farnon, tolong sampaikan pesan …..”. Itu adalah pernyataan yang sering dijumpai atau di dengar Herriot di awal kerja prakteknya sebagai dokter Hewan.

Jika memang tak dapat di hindari, beberapa petani atau peternak, mau tak mau,  menerima kehadiran Herriot untuk memeriksakan ternak mereka. Namun kehadiran Herriot diiringi dengan  keraguan dari orang yang dikunjunginya. “Saya mengharapkan dokter Farnon yang datang. Anda dokter?” Ujar salah seorang petani. Atau pada kesempatan lain Herriot menemukan petani atau peternak yang malah sebaliknya memberikan instruksi pada dirinya “Dokter Farnon biasanya melakukan ini dan itu. Dan semuanya kemudian akan baik-baik saja”. Atau pada kesempatan lain ia menemukan beberapa peternak sepertinya lebih ahli dari seorang dokter. “Tapi ya.. terserah”, pikir Herriot. “Akulah si dokter”. Dan memang tak jarang di minggu-minggu awal prakteknya sebagai dokter muda, keraguan untuk mendiagnosis dan memutuskan sering muncul dalam benak Herriot “apa yang harus kuperbuat?”. Tapi sebagai dokter, Herriot akan segera mengingat semua pelajaran yang pernah di berikan dan mengikuti langkah-langkah yang perlu di lakukan oleh seorang dokter hewan. “

Tapi para peternak dan petani pada dasarnya adalah orang-orang yang baik dan hangat. Mereka sering terperanjat kagum dengan hasil kerja Herriot setelah menangani pasiennya. Setelah keberhasilan Herriot yang mengagumkan, akan terjadi ikatan persahabatan antara mereka. Pelanggannya akan memberi jamuan makan atau telur, keju dan mentega kepada Herriot, dan tentu saja tagihan yang akan menggembirakan majikannya, tuan Siegfried.

Profesinya sebagai dokter hewan memberi banyak tantangan, banyak keputusan cepat serta diagnosa tepat harus segera diambil. Pada suatu Herriot pernah memasukan tangannya untuk menjangkau isi perut kuda yang dilaporkan mengalami sakit perut. Si kuda terpekik-pekik sambil menahan sakit yang luar biasa. “Ususnya terpelintir. Tak ada lagi yang dapat dilakukan. Dia sudah menderita cukup lama dan akan segera mati dalam beberapa jam. Kita akan menolongnya”, ujar Herriot. “Baiklah, apa yang akan kita lakukan” ujar si petani. “Aku akan mengambil pistol dan menembak kepalanya!” teriak Herriot. Tak lama suara tembakan terdengar dan sang kuda roboh berdebum. “Aku akan menuntutmu!” seru si petani gusar. Pada kesempatan lain Herriot bersama Tristan harus berkubang di kotoran berjam-jam untuk menolong persalinan sapi dan memasukan kembali peranakannya ke tempat semula.  Atau sambil terkantuk-kantuk di waktu dinihari menangani persalinan babi di hari yang lain.

Pada hari yang lain ia mendapat tugas dari Siegfried untuk melakukan vaksin pada sejumlah sapi di sebuah peternakan. Kawanan sapi itu dilepaskan begitu saja di alam liar sehingga lebih merupakan sekelompok sapi liar yang akan sulit untuk di tangani. Tak akan mudah memberi suntikan bagi sapi-sapi yang memperlihatkan kemarahan dan ancaman bagi siapapun yang mendekatinya. “Kau bisa menangkap tuan-tuan besar ini?” tanya Herriot kepada Frank dan George, pengembala yang di tugaskan majikannya untuk mengurusi sekawanan sapi ternak liar ini. “Kami akan mencobanya”, ujar mereka. Sapi-sapi kemudian berdesak-desakan sepanjang lorong. Cambukan dari ekor sapi menghantam wajah Herriot adalah selingan menggembirakan bagi Frank dan George ketika Herriot melakukan tugasnya memberi suntikan pada tiap sapi. Sementara sapi yang lain membenturkan pantatnya yang keras ke perut Herriot. Anak-anak sapi mendapat giliran terakhir. Dan hewan-hewan yang lebih kecil ini memberi perlawanan yang lebih menyulitkan Herriot untuk melaksanakan tugasnya. Sapi-sapi kecil menyepak, melompat dan berlari. Perlu kekuatan ekstra untuk menaklukannya. Setelah semua pekerjaan selesai dilakukan, Herriot merasakan sekujur tubuhnya sakit. Rusuknya merasa sakit dan sejumlah luka memar ada di kaki bekas sepakan-sepakan sapi. Herriot memejamkan matanya sejenak, menghirup udara segar sambil menahan sakit di rusuknya. “cara yang aneh untuk mencari nafkah! Hmm… tapi tidak.. aku tidak mengeluh…. aku menikmatinya”.

***

James Herriot, penulis buku, adalah pen name dari James Alfred Wight yang memang berprofesi sebagai dokter hewan. Darrowby, kota tempat Herriot menjalankan  profesinya adalah sekumpulan daerah Thirsk, Richmond, Leyburn dan Middleham di Inggris. Dia juga mengambil sosok dua orang saudaranya, yaitu Donald Sinclair dan Brian Sinclair yang juga berprofesi sebagai dokter hewan ke dalam tokoh Siegfried dan Tristan. Buku ini pada dasarnya merupakan semi autobiography. James Herriot memainkan perannya sebagai narator dalam buku tersebut. Peran sentral berada pada Siegfried, tokoh unik yang  selalu menjadi penggagas awal ide dari mana sebuah kisah dimulai sehingga menjadi cerita yang panjang lebar. Tristan memainkan perannya dengan sukses dengan kepolosan dan kekonyolannya, ini membuat cerita menjadi “cair”, terkait dengan banyak hal konyol dan lucu dari pada sekedar catatan – catatan dokter hewan yang kaku. Persahabatan ketiganya terjadi dengan sangat akrab disela-sela konflik.

Buku disusun dari sejumlah bab. Tiap cerita di tiap bab pada dasarnya merupakan cerita pendek yang saling berdiri sendiri. Hanya ada beberapa kasus pada satu bab yang mendapat pembahasan di bab lainnya. Cara penulis mengkisahkannya dengan bahasa yang sederhana dan jenaka, sehingga banyak bagian dalam buku ini dengan kekonyolannya membuat kita tersenyum-senyum.

Judul buku “Andai Mereka Bisa Bicara” adalah pesan yang ingin disampaikan oleh penulisnya. Hewan-hewan yang ada di sekita kita adalah pusat cerita yang diungkap dalam kisah seorang dokter hewan. Kalau mereka bisa menyampaikan sesuatu, sebenarnya apa ya yang ingin mereka sampaikan tentang diri mereka kepada manusia? Profesi yang diambil oleh Herriot, Siegfried dan Tristan adalah cara memahami apa yang hewan tidak bisa sampaikan kepada manusia. Dan buku yang sedang disampaikan kepada kita menjelaskan hal itu. Kita bersyukur masih ada orang-orang seperti Herriot, Siegfried dan Tristan yang mau bersusah payah untuk memahami hal ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s